Manajemen Operasional: Pentingnya Sistem Just In Time (JIT) Bagi Perusahaan Industri

MANAJEMEN OPERASIONAL
MAKALAH PENTINGNYA SISTEM JUST IN TIME ( JIT ) BAGI
PERUSAHAAN INDUSTRI

 

 

 

 

Disusun Oleh:
Marlina Sukesi (15.0101.0245)
Manajemen 15 D

 

 

PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
2016/2017
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL
DAFTAR ISI 2
BAB I 3
PENDAHULUAN 3
1.1 Latar belakang 3
1.2. Rumusan Masalah 4
1.3. Tujuan Penulisan 4
BAB II 5
PEMBAHASAN 5
2.1. Pengertian Sistem Just In Time (JIT) 5
2.2. Konsep Dasar Dalam Just In Time (JIT) 5
2.3. Manfat Sistem Just In Time (JIT) 7
2.4. Persyaratan-persyaratan JIT yang harus dipenuhi dalam penerapan 8
2.5. Strategi-Strategi Dalam Mengimplementasikan JIT Dalam Perusahaan 9
2.6. Hubungan antara Just In Time (JIT) dan Total Quality Management (TQM) 9
2.7. Keuntungan Just In Time (JIT) 10
2.8. Sistem Just In Time (JIT) Penting Bagi Perusahaan Industri 10
BAB III 12
PENUTUPAN 12
3.1. Kesimpulan 12
DAFTAR PUSTAKA 13

 

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Just In Time ( JIT ) adalah filosofi yang merupakan suatu paradigma baru dari strategi bisnis bergeser dari manajemen persediaan tradisional ke manajemen rantai pasokan berbasis web yang meningkatkan perputaran persediaan dan mengurangi penumpukan persediaan. JIT merupakan suatu konsep yang dapat diterapkan pada banyak aspek dari bisnis selain persediaan. Sistem pemanufakturan tradisional mengatur jadwal produksinya berdasarkan pada peramalan kebutuhan dimasa yang akan datang dengan pasti walaupun ia memiliki pemahaman yang sempurna tentang masa lalu dan memiliki insting yang tajam terhadap kecenderungan yang terjadi di pasar. JIT tergantung pada logistik termasuk transportasi, pergudangan dan beberapa strategi untuk menangani ketidak pastian pasokan rantai potensial.
Persediaan merupakan suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha yang normal atau persediaan barang-barang yang masih dalam proses ataupun persediaan bahan baku. Persediaan merupakan salah satu aset paling mahal dan harus ada keseimbangan antara investasi persediaan dan tingkat pelayanan konsumen. Dari itulah timbul yang namanya konsep just in time adalah suatu konsep di mana bahan baku yang digunakan untuk aktifitas produksi didatangkan dari pemasok atau suplier tepat pada waktu bahan itu dibutuhkan oleh proses produksi, sehingga akan sangat menghemat bahkan meniadakan biaya persediaan barang/penyimpanan barang/ stocking cost. Tujuan utama just in time adalah untuk meningkatkan laba dan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui usaha pengendalian biaya, peningkatan kualitas, serta perbaikan kinerja pengiriman.
Perhitungan serta kerja sama yang baik antara penyalur, pemasok dan bagian produksi haruslah baik karena keterlambatan akibat salah perhitungan atau kejadian lainnya dapat menghambat proses produksi sehingga dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Just In Time merupakan filosofi pemanufakturan yang memiliki implikasi penting dalam manajemen biaya sebab ide dasar Just In Time sangat sederhana, yaitu berproduksi hanya apabila ada permintaan (full system) atau dengan kata lain hanya memproduksi sesuatu yang diminta, pada saat diminta, dan hanya sebesar kuantitas yang diminta karena tujuannya adalah untuk mengangkat produktifitas dan mengurangi pemborosan. Just In Time didasarkan pada konsep arus produksi yang berkelanjutan dan mensyaratkan setiap bagian proses produksi bekerja sama dengan komponen- komponen lainnya.
Tenaga kerja langsung dalam lingkungan Just In Time dipertangguh dengan perluasan tanggung jawab yang berkontribusi pada pemangkasan pemborosan biaya tenaga kerja, ruang dan waktu produksi. Tujuan utama just in time adalah untuk meningkatkan laba dan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui usaha pengendalian biaya, peningkatan kualitas, serta perbaikan kinerja pengiriman.

1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Just In Time di terapkan pada perusahaan industri?
2. Bagaimana kontribusi Just In Time pada perusahaan industri?

1.3. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui perkembangan dan kontribusi sistem just in time dalam perusahaan industri.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Sistem Just In Time (JIT)
Menurut Hansen & Mowen (2001:591), Just In Time (JIT) merupakan suatu pendekatan manufaktur yang mempertahankan bahwa produk-produk harus ditarik dari seluruh sistem dengan adanya permintaan, dan bukannya mendorong seluruh sistem dengan skedul yang tetap untuk mengantisipasi permintaan.
JIT merupakan filosofi pemanufakturan yang memiliki impilkasi penting dalam manajemen biaya. Ide dasar JIT sangat sederhana, yaitu produksi hanya apabila ada permintaan (pull system) atau dengan kata lain hanya memproduksi sesuatu yang diminta dan hanya sebesar kuatitas yang diminta. Filosofi JIT digunakan pertama kali oleh Toyota dan kemudian diadopsi oleh banyak perusahaan manufaktur dijepang.
JIT sasaran utamanya adalah meningkatkan produktivitas sistem produksi atau operasi dengan cara menghilangkan semua kegiatan yang tidak menambah nilai bagi suatu produk, karena JIT merupakan suatu filosofi manajemen operasi yang berusaha untuk menghilangkan pemborosan pada semua aspek dari kegiatan-kegiatan produksi perusahaan
2.2. Konsep Dasar Dalam Just In Time (JIT)
Sistem produksi just in time pada awalnya dikembangkan dan di promosikan oleh ToyotaMotor Corporation di Jepang. Strategi ini kemudian banyak diabdosi oleh banyak perusahaan
Jepang, terutama setelah terjadinya krisis minyak dunia pada tahun 1973. Tujuan utama dari diterapkannya system produksi just in time ini adalah mengurangi ongkos produksi dan meningkatkan produktivitas total industry secara keseluruhan dengan cara menghilangkan pemborosan (waste) secara terus-menerus (john A. White : Production Hand Book, Georgia Institute of Technology, 1987). Sasaran dari strategi produksi just in time (JIT) adalah reduksi biaya dan meningkatkan arus perputaran modal (Capital turnover ratio) dengan jalan menghilangkan setiap pemborosan (waste) dalam system industry. JIT harus dipandang sebagai suatu yang lebih luas dari pada sekedar suatu program pengendalian inventori. JIT
Ada delapan kunci utama pelaksanaan just in time (JIT) dalam kegiatan industri yaitu :
1. Menghasilkan produk sesuai dengan jadwal yang didasarkan pada permintaan pelanggan. Sistem JIT biasanya menghasilkan produksi sesuai dengan pesanan pelanggan dengan system produksi tarik (pull system) yang dibantu dengan menggunakan kartu kanban.
2. Memproduksi dalam jumlah kecil (small lot size). Ciri khas lain adalah memproduksi dalam jumlah kecil sesuai dengan permintaan pelanggan akan menghemat biaya dan sumber daya selain menghilangkan persediaan barang dalam proses yang merupakan sejenis pemborosan yang dapat dihindari dengan menggunakan penjadwalan proses produksi selain itu juga menggunakan pola produksi campur merata yaitu : memproduksi bermacam-mcam dalam satu lini produksi.
3. Menghilangkan pemborosan.Untuk menghindari pemborosan pada persediaan, pembelian dan penjadwalan dengan menggunakan sistem kartu kanban yang mendukung sistem produksi tarik, selain menghasilkan produksi dengan baik sejak awal yaitu pantang menerima, pantang memproses dan pantang menyerahkan produk cacat dengan bekerjasama dengan pemasok dengan persediaan yaitu mengurangi jumlah barang yang datang, menghilangkan persediaan penyangga, mengurangi biaya pembelian, memperbaiki penanganan bahan baku, tercapainya persediaan dalam jumlah kecil dan mendapatkan pemasok yang dapat dipercaya.
4. Memperbaiki aliran produksi. Penataan produksi dilakukan dengan berpedoman pada lima disiplin di tempat kerja yaitu 5-S yang antara lain : Seiri atau pemilahan yaitu disiplin ditempat kerja dengan cara melakukan pemisahan berbgai alat atau komponen ditempat masing-masing sehingga untuk mencarinya nanti bila diperlukan akan lebih mudah. Seiton atau penataan yaitu disiplin ditempat kerja dengan melakukan penyimpanan fungsional dan membuang waktu untuk mencari barang. Seiso atau pembersihan yaitu disiplin ditempat kerja dengan melakukan pembersihan sebagai pemeriksaan dan tingkat kebersihan. Seiketsu atau pemantapan/ perawatan yaitu manajemen visual dan pemantpn 5-S seperti pemberian tanda, pengumuman, label, pengaturan kabel, kode, dsb. Shitsuke atau pembiasaan yaitu pembentukan kebiasaan dan tempat kerja yang berdisiplin.
5. Menyempurnakan kualitas produk. Salah satunya untuk menyempurnakan kualitas produk dengan melihat prinsip manajemen yaitu memelihara pengendalian proses dan membuat semua orang bertanggung-jawab terhadap tercapainya mutu, meningkatkan pandangan manajemen terhadap mutu, terpenuhinya pengendalian mutu produk dengan tegas, memberikan wewenang kepada karyawan untuk mengadakan pengendalian mutu produk, menghendaki koreksi terhadap produk cacat oleh karyawan, tercapainya inspeksi 100 % terhadap mutu produk dan tercapai komitmen terhadap pengedalian mutu jangka panjang.
6. Orang-orang yang tanggap. Penerapan sistem JIT ini tidak lagi menggunakan pilar keuangan, pemasaran, SDM, tapi menggunakan lintas fungsi atau lintas disiplin sehingga seluruh karyawan harus menguasai seluruh bidang dalam perusahan sesuai dengan jenjang dan kedudukannya dan kesalahan dalam proses selalu ditandai dengan menyalanya lampu andon dan proses dihentikan dan seluruh karyawan terfokus pada perbaikan yang terkenal dengan istilh jidoka yaitu semua karyawan bertanggungjawab terhadap tercapaianya produk yang baik dan mencegah terjadinya kesalahan.
7. Menghilangkan ketidak pastian. Untuk menghilangkan ketidakpastian dengan pemasok dengan cara menjalin hubungan abadi dan memilki satu pemasok yang lokasinya berdekatan dengan perusahaan yang masih kerabat dengan pemilik perusahaan, sedang dalam proses produksi dengan cara menerapkan sistem produksitarik dengan bantuan kartu kanban dan produksi campur merata.
8. Penekanan pada pemeliharaan jangka panjang. Karakteristik pemeliharaan dengan berpegang pada kontrak jangka panjang, memperbaiki mutu, fleksibelitas dalam mengadakan pesanan barang, pemesanan dalam jumlah kecil yang dilakukan berkali-kali, mengadakan perbaikan secara terus-menerus dan berkesinambungan
2.3. Manfat Sistem Just In Time (JIT)
JIT bukan hanya sekedar metode pengendalian persediaan tetapi juga merupakan system produksi yang saling berkaitan dengan semua fungsidan aktivitas.
Manfaat JIT antara lain : a) Mengurangi ruangan gudang untuk penyimpanan barang, b)Mengurangi waktu setup dan penundaan jadwal produksi, c) Mengurangi pemborosan barang rusak dan cacat dengan mendeteksi kesalahan pada sumbernya, e) Penggunaan mesin dan fasilitas secara baik, f) Menciptakan hubungan yang lebih baik dengan pemasok, g) Layout pabrik yang lebih baik, h) Pengendalian kualitas dalam proses.

2.4. Persyaratan-persyaratan JIT yang harus dipenuhi dalam penerapan
1. Organisasi Pabrik dengan sisitem JIT berusaha untuk mengatur layout berdasarkan produk. Semua proses yang diperlukan untuk membuat produk tertentu diletakkan dalam satu lokasi.
2. Pelatihan/ Tim / Keterampilan. JIT memerlukan tambahan pelatihan yang lebih banyak bila dibandingkan dengan sistem tradisional. Karyawan diberi pelatihan mengenai bagaimana menghadapi perubahan yang dilakukan dari sistem tradisional dan bagaimana cara kerja JIT.
• Membentuk Aliran/Penyederhanaan. Idealnya suatu lini produksi yang baru dapat di setupsebagai batu ujian untuk membentuk aliran produksi, menyeimbangkan aliran tersebut, dan memecahkan masalah awal.
• Kanbal Pull System. Kanbal merupakan sistem manajemen suatu pengendalian perusahaan, karena itu kanbal memiliki beberapa aturan yang perlu diperhatikan : a) Jangan mengirim produk rusak ke prosess berikutnya, b) Proses berikutnya hanya mengambil apa yang dibutuhkan pada saat dibutuhkan, c) Memproduksi hanya sejumlah proses berikutnya, d) Meratakan beban produksi, e) Mentaati instruktur kanban pada saat fine tuning, f) Melakukan stabilisasi dan rasionalisasi proses.
3. Visibiltas/ pengendalian visual. Salah satu kekuatan JIT adalah sistemnya yang merupakan system visual. Melacaknya apa yang terjadi dalam sistem tradisional sulit dilakukan karena para karyawan mondar-mandir mengurus kelebihan barang dalam prosess dan banyak rute produksi yang saling bersilangan.
4. Eliminasi Kemacetan. Untuk menghapus kemcetan, baik dalam fase setup maupun dalam masa produksi, perlu dilakukan beberapa pendekatan yang melibatkan tim fungsi silang. Tim ini terdiri dari berabagi departemen, seperti perekayasaan, manufaktur, keuangan dan departemen lainnya yang relevan.
5. Ukuran Lot Kecil Dan Pengurangan Waktu Setup. Ukuran lot yang ideal bukan ukuran yang terbesar, tetapi ukuran lot yang terkecil. Pendekatan ini sesuai bila mesin-mesin digunakan untuk menghasilkan berbagai bagian atau komponen yang berbeda yang digunakan proses berikutnya dalam tahap produksi.
6. Total Productive Maintance (TPM) merupakan suatu keharusan dalam sistem JIT. Mesin-mesin membersihkan dan diberi pelumas secara rutin, biasanya dilakukan oleh operator yang menjalankan mesin tersebut.
7. Kemampuan Proses, Statistical Proses Control (SPC), Dan Perbaikan berkesinambungan. Kemampuan proses, SPC, dan perbaikan berkesinambungan harus ada dalam pemanufakturan JIT, karena beberapa hal : Pertama, segala sesuatu harus bekerja sesuai dengan harapan dan mendekati sempurna. Kedua, dalam JIT tidak ada bahan cadangan untuk kemacetan perusahaan dan Ketiga, semua kondisi mesin harus bekerja dengan prima.
2.5. Strategi-Strategi Dalam Mengimplementasikan JIT Dalam Perusahaan
Strategi Penerapan pembelian Just in Time. Dukungan, yaitu dari semua pihak terutama yang berkaitan dengan kegiatan pembelian, dan khususnya dukungan dari pimpinan. Tanpa ada komitmen dari pimpinan tersebut JIT tidak dapat terlaksana. Mengubah sistem, yaitu mengubah cara mengadakan pembelian, yaitu dengan membuat kontrak jangka panjang dengan pemasok sehingga perusahaan cukup hanya memesan sekali untuk jangka panjang, selanjutnya barang akan datang sesuai kebutuhan atau proses produksi perubahan diperusahaan.
Strategi penerapan Just in Time dalam sistem produksi. Penemuan sistem produksi yang tepat, yaitu dengan sistem tarik yang bertujuan memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan dengan menghilangkan sebanyak mungkin pemborosan. Penemuan lini produksi yaitu dalam satu lini produksi harus dibuat bermacam-macam barang, sehingga semua kebutuhan pelanggan yang berbeda-beda itu dapat terpenuhi. Selain itu lini produksi tersebut dapat menghemat biaya, biaya bahan, persediaan, dan sebagainya. JIT bukan hanya sekedar metode pengedalian persediaan, tetapi juga merupakan sistem produksi yang saling berkaitan dengan semua fungsi dan aktivitas.
2.6. Hubungan antara Just In Time (JIT) dan Total Quality Management (TQM)
Untuk mengimplementasikan JIT diperlukan adanya system total quality secara keseluruhan dalam organisasi. JIT mensyaratkan semua departemen dapat merespon kebutuhan-kebutuhannya. Apabila departemen produksi melaksanakan JIT tetapi organisasi secara keseluruhan tidakmengupayakan Total Quality Management (TQM), maka personil departemen produksi akan menghadapi hambatan yang besar. Selain itu JIT juga mensyaratkan perubahan, sehingga sering kali timbul penolakan dari departemen yang memiliki komitmen untuk berubah. Perbaikan secara terusmenerus (kaizen) selalu beriringan dengan TQM. Bahkan sebelum filosofi TQM ini terlaksana atau sebelum sistem mutu dapat dilaksanakan dalam suatu perusahaan maka filosofi ini tidak akan dapat dilaksanakan sehingga perbaikan secara terus-menerus (just in time) ini adalah usaha yang melekat pada filosofi TQM itu sendiri. Sehingga Kaizen juga bisa merupakan suatu kesatuan pandangan yang komprenhensif dan terintegrasi.
2.7. Keuntungan Just In Time (JIT)
1. Seluruh system yang ada pada perusahaan dapat berjalan lebih efisien.
2. Pabrik mengeluarkan biaya yang lebih sedikit untuk memperkerjakan para staffnya.
3. Barang produksi tidak selalu harus di cek, disimpan atau di retur kembali
4. Kertas kerja bisa lebih simple.
5. Penghematan yang telah dilakukan dapat digunakan untuk mendapat profit yang lebih tinggi, misalnya : mengadakan promosi tambahan.
2.8. Sistem Just In Time (JIT) Penting Bagi Perusahaan Industri
Dalam menangani tingginya biaya, menurunnya laba, dan menajamnya persaingan telah mengakibatkan perusahaan mencari cara-cara untuk merampingkan kegiatan usaha mereka dan mengumpulkan lebih banyak data akurat untuk tujuan pengambilan keputusan. Oleh karena itu muncullah ide Just In Time (JIT) yang hanya memproduksi apabila ada permintaan. Akibatnya pemborosan dapat dihilangkan dalam skala besar, yaitu berupa perbaikan kualitas dan biaya produksi yang lebih rendah. Tujuan utama JIT adalah untuk meningkatkan laba dan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui usaha pengendalian biaya, peningkatan kualitas, serta perbaikan kinerja pengiriman.
Prinsip dasar JIT adalah meningkatkan kemampuan secara terusmenerus untuk merespon perubahan dengan meminimalisasi pemborosan. Ada empat aspek pokok dalam sistim JIT yaitu : a) Menghilangkan semua aktivitas atau sumber-sumber yang tidak memberikan nilai tambah terhadap produk. b) Komitmen terhadap kualitas prima. c) Mendorong perbaikan berkesinambungan untuk meningkatkan efisiensi. d) Memberikan tekanan pada penyederhanaan aktivitas dan peningkatan visibilitas yang memberikan nilai tambah. Just In Time adalah suatu sistem keseluruhan filosofi operasi manajemen dimana segenap sumber daya, termasuk bahan baku dan suku cadang, personalia, dan fasilitas dipakai sebatas dibutuhkan.
Tujuannya adalah untuk mengangkat produktifitas dan mengurangi pemborosan. Just In Time didasarkan pada konsep arus produksi yang berkelanjutan dan mensyaratkan setiap bagian proses produksi bekerja sama dengan komponen-komponen lainnya. Tenaga kerja langsung dalam lingkungan Just In Time dipertangguh dengan perluasan tanggung jawab yang berkontribusi pada pemangkasan pemborosan biaya tenaga kerja, ruang dan waktu produksi. Perusahaan-perusahaan pabrikasi menyimpan tiga jenis persediaan : bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. Persediaan-persediaan ini dirancang untuk bertindak sebagai penyangga sehingga kegiatan-kegiatan perusahaan tetap dapat berjalan mulus kendatipun para pemasok terlambat melakukan pengiriman atau bilamana sebuah departemen tidak mampu beroperasi selama beberapa waktu karena sesuatu atau hal lainnya.
Persediaan- persediaan ini dirancang untuk bertindak sebagai penyangga sehingga kegiatan-kegiatan perusahaan tetap dapat berjalan mulus kendatipun para pemasok terlambat melakukan pengiriman atau bilamana sebuah departemen tidak mampu beroperasi selama beberapa waktu karena sesuatu atau hal lainnya. Namun penyimpanan persediaan-persediaan itu sudah barang tentu memakan biaya besar. Sistem Just In Time (JIT) merupakan upaya untuk mengurangi atau menghilangkan persedian. Perusahaan yang mengadopsi system Just In Time (JIT) ke proses produksinya pastilah merancang kembali fasilitas – fasilitas pabrikasinya dan kejadian-kejadian yang memicu proses produksi berdasarkan prediksi terhadap masa yang akan datang dalam sistem tradisional memiliki resiko kerugian yang lebih besar karena over produksi dari pada produksi berdasarkan permintaan yang sesungguhnya oleh karena itu munculah ide Just In Time (JIT) yang memproduksi apabila ada permintaan. Suatu proses produksi hanya akan memproduksi apabila diisyaratkan oleh proses berikutnya. Sebagai akibatnya pemborosoan dapat dihilangkan dalam skala besar, yaitu berupa perbaikan kualitas dan biaya produksi yang lebih rendah kedua hal tersebut menjadikan perusahaan lebih kooperatif karena tujuan utama Just In Time (JIT) adalah untuk meningkatkan laba dan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui usaha pengendalian biaya, peningkatan kualitas, serta perbaikan kinerja pengiriman.

 

 

 

 

BAB III
PENUTUPAN
3.1. Kesimpulan
Persediaan, JIT adalah untuk sistem persediaan yang dirancang guna mendapatkan barang secara tepat waktu. Pada persediaan JIT mensyaratkan bahwa proses atau orang yang membuat unitunit rusak dapat dikirim untuk menunggu pengerjaan ulang atau menjadi bahan sisa. Sistim JIT menghapus kebutuhan akan persediaan karena tidak ada produksi sampai barang akan dijual. Hal ini berarti bahwa perusahaan harus mempunyai pesanan terus menerus agar dapat berproduksi. Dalam sistem JIT menerapkan untuk membeli barang hanya dalam kuantitas yang dibutuhkan saja. Untuk itu perusahaan harus mengikat kontrak panjang kepada pemasok agar bersedia mengirimkan barang yang kita pesan sesering mungkin. Hal ini agar tidak adanya persediaan digudang.
Produksi JIT adalah suatu sistem dimana tiap komponen dalam jalur produksi menghasilkan secepatnya saat diperlukan dalam langkah selanjutnya dalam jalur produksi. Perusahaan harus memproduksi barang sesuai dengan jumlah pesanan agar tidak adanya persediaan. Pada sistem JIT perusahaan harus meningkatkan kualitasnya agar dapat bersaing dengan perusahaan yang lain. Untuk perusahaan harus memperhatikan kualitas mutunya. Dalam pengiriman barang dengan JIT harus tepat waktu, sesuai dengan jumlah pesanan dan dengan kualitas yang bermutu tinggi. Karena hal ini dapat mempengaruhi kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan produksi. Jika pelanggan senang maka ia akan sering melakukan pesanan terhadap perusahaan dan sebaliknya jika pelanggan tidak puas maka pelanggan akan memilih keperusahaan yang lain.
JIT merupakan suatau filosofi manajemen operasi yang berusaha untuk menghilangkan pemborosan pada semua aspek dari kegiatan-kegiatan produksi perusahaan. Sasaran utama JIT adalah meningkatkan produktivitas sistem produksi atau operasi dengan cara menghilangkan semua macam kegiatan yang tidak menambah nilai bagi suatu produk. Just in Time (JIT) mendasarkan pada 8 (delapan) kunci utama, yaitu : a) menghasilakan produk yang sesuai dengan jadwal yang didasarkan pada permintaan, b ) memproduksi dengan jumlah yang kecil, c ) menghilangkan pemborosan,d ) memperbaiki aliran produksi, e ) menyempurnakan kualitas produk, f ) orang orang yang tanggap, g ) menghilangkan ketidak pastian, h ) penekananan pada pemeliharaan jangka panjang.
DAFTAR PUSTAKA
Fandy Tjiptono & Anatasia Dianan, Total Quality Manajemen, Andi offet Yogyakarta. http://pakguruonline.pendidikan.net./mpmbs4.html
http://kamasanpost.blogspot.com/2008/02/manajemen-peningkatan -mutu-berbasis.html
Schonberger, R.J, “Just In Time Production System : Replacing Complexity with Simlpicity in Manufacturing Management”, Industrial Engineering, vol. 16 no. 10, 1984.
Mursyidi, Akuntansi Biaya : “Conventional Costing, Just in Time dan Activity-Based Costing “, Penerbit Karisma, 2009
http://mistc.unila.ac.id/filelemlit/1-Semua-%20(word).pdf
http://saintek.uin-suka.ac.id/file_ilmiah/Kaunia.pdf
Wahyu Ariani Dorothea, Manajemen Kualitas, Andi offset Yogyakarta.

Advertisements

Manajemen Strategi: Analisis dan Pilihan Strategi

MAKALAH STRATEGI BISNIS
ANALISIS DAN PILIHAN STRATEGI
Dosen Pengampu:

 

 

 

Kelompok 3:

1. Endang Widowati Kusuma Wardani (15.0101.0209)
2. Sekar Putri Fatimah (15.0101.0)
3. Marlina Sukesi (15.0101.0245)

 

 

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
JURUSAN MANAJEMEN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
2017

 

A. HAKEKAT ANALISIS DAN PILIHAN STRATEGI
Strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus menerus, serta dilkaukan berdasarkan sudut pandang tentan apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan. Dengan demikian strategi hamper selalu dimulai dari apa yang dapat terjadi dan bukan dimuli dari apa yang terjadi.
Analisis dan pilihan strategi berfokus pada usaha menciptakan dan mengevaluasi strategi-strategi alternative, selain memilih strategi yang hendak dijalankan. Analisis dan pilihan strategi berusaha menentukan tindakan alternative yang paling baik dalam membantu perusahaan mencapai misi dan tujuannya. Strategi, tujuan dan misi perusahaan, ditambah dengan informasi audit eksternal dan internal, memberikan landasan untuk menciptakan serta mengevaluasi strategi alternative yang masuk akal.
Analisis dan pemilihan strategi haruslah dijalankan secara hati-hati dan bertanggungjawab. Karena pemilihan strategi berdasarkan alternative strategi yang akhirnya akan dieksekusi 1 strategi untuk diterapkan selama proses implementasi mempertaruhkan segala komitmen dan sumber daya perusahaan dalam jangka panjang. Agar proses analisis dan pemilihan strategi efektif, maka perlu diketahui sifat analisis dan pemilihan strategi berikut ini:
• Sebagai langkah awal untuk menetapkan tujuan jangka panjang
• Sebagai proses menghasilkan strategi alternatif
• Memilih strategi yang akan dilaksanakan
• Analisis strategi dan pilihan strategi mencoba menetapkan macam tindakan alternatif yang terbaik bagi perusahaan dalam mewujudkan visi dan misinya
B. PROSES MENCIPTAKAN DAN MEMILIH STRATEGI
Para penyususun strategi tidak pernah dapat mempertimbangkan seluruh alternative yang dapat menguntungkan perusahaan karena akan sangat banyak tindakan yang mungkin dan tak terbatas cara untuk menerapkan tindakan-tindakan tersebut. Untuk itu serangkaian strategi alternative paling menarik yang bisa dikelola harus dikembangkan. Keuntungan, kerugian, trade off, biaya, dan manfaat strategi-strategi ini harus ditentukan. Proses menciptkaan dan memilih strategi dalam kerangka manajemen strategic yang komprehensif.
Mengindentifikasi dan mengevaluasi strategi alternatif alternatif hendaknya melibatkan banyak manajer dan karyawan, perwakilan dari departemen dan divisi dalam perusahaan harus diikutsertakan dalam proses ini yang telah merumuskan pernyataan visi dan misi organisasi serta audit eksternal dan internal.
Partisipasi mereka (partisipan) memberi peluang terbaik bagi manajer dan karyawan untuk memperoleh pemahaman tentang apa yang perusahaan lakukan dan mengapa dilakukan serta untuk berkomitmen dalam membantu perusahaan mencapai tujuan tujuan yang telah ditetapkan.
Seluruh partisipan dalam memberikan analisis dan pemilihan strategi harus memiliki informasi audit eksternal dan internal dihadapan mereka. Strategi-strategi alternatif yang diajukan para partisipan harus dipertimbangkan dan didiskusikan dalam satu atau serangkaian rapat. Dan harus disusun dalam bentuk tertulis.
Ketika semua strategi yang masuk akal yang diidentifikasi oleh partisipan telah disampaikan dan mengerti, strategi-strategi tersebut hendaknya diperingkat berdasarkan daya tarik masing-masing menurut pertisipan dengan 1= jangan diterapkan, 2= mungkin diterapkan, 3= sebaliknya diterapkan dan 4= harus diterapkan. Proses ini akan menghasilkan sebuah daftar prioritas terbaik yang mencerminkan pemikiran seluruh anggota kelompok.
C. KERANGKA PERUMUSAN STRATEGI YANG KOMPREHENSIF
Proses formulasi strategi meliputi 3 tahap, yaitu: tahap input (input stage), tahap pencocokan (matching stage), dan tahap keputusan (decision stage). Dalam model ini terdapat 9 teknik matriks yang akan menghasilkan 1 strategi yang akan dieksekusi dalam proses manajemen strategi berikutnya, yaitu implementasi strategi. Teknik-teknik perumusan strategi tersebut dapat diintegrasikan kedalam kerangka pengambilan keputusan tiga tahap. Kerangka analitis perumusan strategi:
TAHAP 1: TAHAP INPUT
Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) Matriks Profil Kompetitif (CPM) Matriks Evaluasi Faktor Internal (IFE)
TAHAP 2: TAHAP PENCOCOKAN
Matriks SWOT Matriks Posisi Strategis dan Evaluasi Tindakan (SPACE) Matriks Boston Consulting Group
(BCG) Matriks Internal-Eksternal (IE) Matriks Strategi Besar
TAHAP 3: TAHAP KEPUTUSAN
Matriks Perencanaan Strategis Kuantitatif (QSPM)
 Tahap pertama; Matrik EFE, IFE dan CPM disebut tahap input (tahap ini meringkas informasi input dasar yang diperlukan untuk merumuskan strategi)
 Tahap kedua disebut tahap pencocokan, memfokuskan pada menghasilkan strategi alternatif yang layak dengan memadukan faktor eksternal dan internal. Tahap kedua ini meliputi; Matriks SWOT, SPACE, BCG, IE, dan strategi besar (grand strategy)
 Tahap ketiga, disebut tahap keputusan menggunakan satu macam teknik, Quantitative Strategic Planing Matrix (QSPM)
a. Tahap Input
Merupakan tahap pertama dari proses formulasi strategi, pada tahap ini dibuat ringkasan informasi dasar yang dibutuhkan untuk merumuskan strategi. Pada tahap input terdapat 3 matriks, yaitu matriks EFE, IFE, dan CPM.
Informasi yang diperoleh dari analisis kondisi internal, eksternal dan profil kompetitif menjadi informasi dasar untuk tahap pencocokan dan tahap keputusan. Alat-alat input mendorong para penyusun strategi untuk mengukur subjektifitas selama tahap awal proses perumusan strategi.
Membuat berbagai keputusan-keptusan kecil dan matriks input menyangkut signifikansi relative factor-faktor eksternal dan internal memungkinkan para penyusun strategi untuk secara lebih efektif menciptakan serta mengevaluasi strategi alternative. Penilaian intuitif yang baik selalu membutuhkan dalam menentukan bobot dan peringkat yang tepat.
b. Tahap Pencocokan
Tahap pencocokan dari kerangka perumusan strategi terdiri atas lima teknik yang dapat digunakan, yaitu: Matriks SWOT, Matriks SPACE, Matriks BCG, Mtariks IE, dan Matriks Strategi Besar. Alat-alat ini bergantung pada informasi yang diperoleh dari tahap input untuk memadukan peluang dan ancaman eksternal dengan kekuatan dan kelemahan internal. Mencocokan (matching) factor-faktor keberhasilan penting eksternal dan internal merupakan kunci untuk menciptakan strategi alternatif yang masuk akal. 5 teknik yang dapat digunakan:
1. Matriks Kekuatan-kelemahan-Peluang-Ancaman (SWOT)
Adalah sebuah alat pencocokan yang penting yang membantu para manajer mengembangkan empat jenis strategi, yaitu:
a) Strategi SO (strengths-Opportunities)
Memanfaatkan kekuatan internal perusahaan untuk memanfaatkan peluang eksternal. Posisi ini merupakan posisi yang diharapkan oleh perusahaan, dimana kekuatan internal yang dimiliki perusahaan dapat digunakan untuk memanfaatkan peluang eksternal.
b) Strategi WO (Weaknesses-Opportunities)
Bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal dengan memanfaatkan peluang eksternal. Apabila perusahaan memiliki peluang eksternal kunci tetapi disatu sisi perusahaan memiliki kelemahan internal yang menghambatnya untu mengeksploitasi peluang tersebut. Salah satu alternative strategi WO adalah merekrut dan melatih staf dengan kemampuan teknis yang dibutuhkan.
c) Strategi ST (Strengths-Threats)
Menggunakan kekuatan untuk menghindari atau mengurangi dampak ancaman eksternal.
d) Strategi WT (Weaknesses-Threats)
Merupakan taktik defensive yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan internal serta menghindari ancaman eksternal. Sebuah organisasi yang menghadapi berbagai ancaman eksternal dan kelemahan internal benar-benar dalam posisi yang membahayakan. Dalam kenyataan, perusahaan semacam itu mungkin harus berjuang untuk bertahan hidup, melakukan merger, penciutan, menyatakan diri bangkrut, atau memilih likuidasi. Berikut matriks SWOT
Strengths – S

List Strengths Weaknesses – W

List Weaknesses
Opportunities – O

List Opportunities SO Strategies
Use strengths to take advantage of opportunities WO Strategies
Overcoming weaknesses by taking advantage of opportunities
Threats – T

List Threats ST Strategies
Use strengths to avoid threats WT Strategies
Minimize weaknesses and avoid threats

 

2. Matriks SPACE
Tindakan matriks (strategic Position and Action Evaluation-SPACE) merupakan kerangka empat kuadrat yang menunjukkan apakah strategi agresif, konservatif, defensive atau kompetitif yang paling cocok untuk organisasi tertentu. Matriks SPACE ini beberapa variable yang ada dalam matriks EFE, IFE, dan CPM perlu dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam dimensi yang ada dalam matriks SPACE ini. Dimensi yang terdapat dalam matriks ini adalah:
• Dimensi internal: kekuatan financial (financial strength-FS) dan keunggulan kompetitif (competitive advantage-CA)
• Dimensi eksternal: stabilitas lingkungan (environmental stability-ES) dan kekuatan industry (industry strength-IS).
Dari kedua dimensi ini kiranya memerlukan penentuan terpenting dari strategi keseluruhan suatu organisasi.
Factor SPACE
Posisi Strategis Internal Posisi Strategis Eksternal
Kekuatan Finansial (FS) Stabilitas Lingkungan (ES)
Pengembalian atas investasi Perubahan Teknologi
Pengungkit Tingkat Inflasi
Likuiditas Variabilitas Permintaan
Modal Kerja Rentang harga produk saingan
Arus Kas Hambatan masuk ke pasar
Perputaran Persediaan Tekanan kompetitif
Laba per saham Kemudahan keluar dari pasar
Rasio harga/laba Elastisitas harga permintaan
Risiko bisnis
Keunggulan Kompetitif (CA) Kekuatan Industri (IS)
Pangsa pasar Potensi pertumbuhan
Kualitas produk Potensi laba
Siklus hidup produk Stabilitas keuangan
Loyalitas konsumen Trik-trik teknologis
Penggunaan kapasitas persaingan Utilisasi sumber daya
Trik-trik teknologis Kemudahan masuk ke pasar
Kendali atas pemasok dan distributor Priduktivitas, penggunaan kapasitas

 

Dengan menggunakan 4 unsur tersebut maka matriks SPACE dapat menghasilkan 4 posisi dalam kuadran yang akan dapat diterapkan beberapa alternative strategi sesuai dengan karakteristik masing-masing kuadran. Posisi tersebut adalah:
 Agresif:
 Memanfaatkan peluang
 Mengatasi kelemahan
 Menghindari ancaman
 Strategi: intensif (penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk), integrasi (kedepan, kebelakang, horizontal), diversifikasi (konsentris, horizontal, konglomerasi)
 Konservatif:
 Berusaha mempertahankan kompetensi inti
 Tidak mau ambil risiko yang berlebihan
 Strategi: Intensif (penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk), diversifikasi konsentris
 Defensive:
 Fokus pada perbaikan kelemahan
 Menghindar ancaman
 Strategi: devensive (penghematan, divestasi, likuidasi), diversifikasi konsentris
 Kompetitif:
 Potensi industri masih cukup menjanjikan
 Lingkungan relative kurang stabil
 Strategi: Intensif (penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk), integrasi (kedepan, kebelakang, horizontal), Joint Venture

 

 

 

Langkah langkah yang dibutuhkan dalam mengembangkan Matrik SPACE:
1. Pilih serangkaian variable untuk menentukan keluatan financial (FS), keunggulan kompetitif (CA), stabilitas lingkungan (ES) dan kekuatan industry (IS)
2. Nilaivariable-variabel tersebut munggunakan skala 1 (paling buruk) sampai nomer 6 (paling baik) untuk FS dan IS dan -6 (paling buruk sampai -1 (paling baik) untuk ES dan CA. Pada sumbu FS dan CA kita buat perbandingan dengan pesaing serta pada sumbu ES dan IS kita buat perbandingan dengan industry lain.
3. Hitung rata rata dari FS,CA,IS dan ES dengan menjumlahkan nilai yang kita berikan pada setiap variable dan kemudian membaginya dengan jumlah variable dalam dimensi yang bersangkutan.
4. Petakan nilai rata-rata untuk FS, IS, ES dan CA pada sumbu yang sesuai dengan Matrik SPACE.
5. Jumlahkan nilai rata-rata pada sumbu x (CA,IS) dan petakan hasilnya pada sumbu X. Jumlahkan nilai rata-rata pada sumbu y (FS,ES) dan petakan hasilnya dalam sumbu Y. Petakan perpotongan kedua titik X dan Y (xy yang baru) tersebut.
6. Gambarkan arah vector (directional vector) dari koordinat 0,0 melalui titik perpotongan yang baru. Arah panah menunjukkan jenis strategi yang disarankan bagi organisasi : agresif, kompetitif, defensive atau konservatif.

 

 

 

Sumber:
David Fred R., Konsep Manajemen Strategis, Penerbit Salemba Empat, 2009

 

 

 

Bab III Teori Ekonomi Bisnis Internasional

BAB III
TEORI EKONOMI BISNIS INTERNASIONAL
3.1. Merkantilisme
Falsafat ekonmi yang serang Smith, menganut pendirian persediaan logam-logam berharga. Hal ini, dalam pandangan penganut markantilisme, merupaka satu-satunya sumber kesejahteraan. Karena Inggris tidak memiliki pertambangan, para markantilisme cenderung ke perdagangan internassional untuk memasok emas dan perak.
Pemerintah membuat kebijakan ekonomi yang mempromosikan ekspor dan mengurangi impor, mengakibatkan surplus perdagangan yang harus dibayar dengan emas dan perak. Larangan-larangan impor seperti bea masuk mengurangi impor, sementara pemerintah kepada eksportir meningkatkan ekspor. Tindakan-tindakan ini menciptakan surplus perdagangan.
3.2. Teori Keunggulan Absolut
Adam Smith menyatakan bahwa kekuatan-kekuatan pasar, bukan pengendalian pemerintah, yang seharusnya menentukan arah, volume dan komposisi perdagangan internasional. Dia beralasan bahwa dalam perdagangan yang bebas dan tidak diregulasi, masing-masing Negara akan mengkhususkan diri dalam memproduksi barang-barang yang dapat diproduksinya dengan lebih efisien (memiliki suatu keunggulan absolut, baik alamiah maupun yang diperoleh).
Sebagian barang-barang tersebut akan diekspor untuk membayar impor barang-barang yang dapat diproduksi lebih efisien di tempat lain. Smith menunjukkan dengan contoh mengenai keunggulan absolut bahwa kedua Negara akan memperoleh keuntungan dari perdagangan.
Disamping itu Adam Smith juga mengemukakan ide tentang pentingnya “ pembagian kerja internasional “ (spesialisasi) dalam perdagangan, artinya suatu Negara lebih baik memfokuskan diri pada kegiatan produksi barang-barang tertentu yang memiliki efisiensi lebih tinggi dibandibandingkan denagn Negara lain. Dengan adanya spesialisasi suatu Negara akan memperoleh keuntungan, yaitu jumlah produksi lebih banyak, kualitasnya labih baik dan harga lebih murah.
3.3. Teori Keunggulan Komparatif
Pada tahun 1817 Richardo memperlihatkan bahwa meskipun bangsa memegang keunggulan absolut dalam produksi dua barang, kedu Negara masih dapat berdagang dengan keunggulan bagi masing-masing sepanjang bangsa yang kurang efisien, tingkat kekurangan-efisiennya tidak sama dalam memproduksi kedua barang tersebut.
Keunggulan komparatif adalah keunggulan yang diperoleh suatu Negara ( dari menjalankan spesialisasi ) karena dapat menghasilkan produk dengan biaya relative yang lebih rendah daripada Negara lain. Menurut teori ini perdagangan masih tetap bisa dilakukan meskipun suatu Negara tidak memiliki keunggulan mutlak sekalipun terhadap Negara lain. Menurut teori ini setiap Negara akan cenderung untuk melakukan spesialisasi dan mengekspor barang-barang produksinya yang memiliki keunggulan komparatif.
Teori Ricardo ini berdasarkan pada beberapa asumsi, yaitu :
1. Perdagangan internasional hanya terjadi antara dua Negara;
2. Barang-barang yang diperdagangkan hanya dua jenis;
3. Perdagangan dilakukan secara bebas;
4. Tenaga kerja bebas bergerak dalam negeri;
5. Biaya produksi dianggap tetap;
6. biaya transportasi tidak ada;
7. Tidak ada perubahan teknologi.
3.4. Teori Factor Endowment oleh Heckscher-Ohlin
Teori Heckscher-Ohlin, menyatakan bahwa perbedaan-perbedaan internasional dan interregional dalam biaya produksi timbul karena perbedaan-perbedaan dalam pasokan factor-faktor produksi. Barang-barnag yang memerlukan sejumlah besar factor yang melimpah-jadi lebih murah- akan memperendah biaya produksi, sehingga memungkinkan untuk dijual lebih murah di pasar-pasar internasional.
.
Suatu negara memiliki tenaga kerja lebih banyak dan pada negara lain, sedang negara lain memiliki kapital lebih banyak daripada negara tersebut sehingga dapat menyebabkan terjadinya pertukaran. Sebuah asumsi yang erat kaitannya adalah bahwa suatu produk tertentu adalah pada tenaga kerja maupun modal.
Suatu negara, misalnya A, memiliki tenaga kerja yang besar dan relatif sedikit kapital, maka untuk sejumlah pengeluaran uang tertentu akan memperoleh jumlah tenaga kenja lebih banyak daripada kapital. Misalnya uang RplOO,00 dapat dibeli 20 unit tenaga atau 5 Unit mesin, jadi 20 unit tenaga sama dengan 5 unit mesin.
1. Paradoks Leontief
Menemukan bahwa Amerika Serikat, salah satu di antara Negara-negara yang paling padat modal di dunia, mengekspor produk-produk yang padat tenaga kerja.
2. Perbedaan selera
Hal ini karena adanya sisi permintaan yang selalu sulit untuk berhubungan dengan teori ekonomi dan yang begitu jauh telah diabaikan-perbedaan-perbedaan dalam rasa/selera.
Memperkenlkan Uang
Kurs adalah harga sebuah mata uang yang dinyatakan dalam nilai mata uang lainnya.
3.5. Daur Hidup Produk Internasional
Daur hidup produk internasional (PLC) adalah sebuah teori yang menjelaskan mengapa suatu produk yang mula-mula sebagai ekspor seuah Negara akhirnya menjadi impornya. Keempat tahapan yang dilalui sebuah produk baru diilustrasikan dalam gambar dan di jelaskan sebagai berikut :
1. Ekspor AS. Karena Amerika Serikat memiliki penduduk dengan konsumen berpenghasilan tinggi terbesar di dunia, persaingan untuk memperoleh dukungan mereka sangat intensif.
2. Produk luar negeri dimulai. Perusahaan Amerika masih harus mengekspor ke pasar-pasar di mana tidak dapat produksi, tetapi pertumbuhan ekspornya akan berkurang
3. Persaingan luar negeri dalam pasar ekspor . Perusahan-perusahaan asing bersaing di pasar-pasar ekspor, dan akibatnya, penjualan ekspor Amerika akan terus merosot.
4. Persaingan impor di Amerika Serikat. Apabila penjualan domestik dan ekspor memungkinkan para produsen luar negeri memperoleh skala ekonomi yang dinikmati oleh perusahaan Amerika, mereka dapat mencapai suatu titik dimana mereka dapat bersaing dalam kualitas dan menjual lebih murah dari pada perusahaan Amerika di pasar Amerika.
3.6. Beberap Penjelasan Yang Lebih Baru Untuk Arah Perdagangan
1. Skala Ekonomi Dan Kurva Pengalaman (Experience Curve) mempengaruhi perdagangan internasional karena memungkinkan industri-industri suatu negara menjadi produsen biaya-rendah tanpa memiliki faktor-faktor produksi yang berlimpah.
2. Teori Penggerak Pertama (First Moves Theory) sebagian ahli teori manajemen menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang pertama menerobos pasar (penggerak pertama) akan segera mendominasinya.
3. Teori Linder Mengnai Permintaan Yang Tumpah Tindih
Teori Linder mengambil kesimpulan bahwa perdagangan internasioanl dalam barang-barang manfaktur akan menjadi lebih besar antara negara-negara dengan tingkat pendapatan per kapita yang sama daripada antara negara-negara yang tidak sama tingkat pendapatan per kapitanya.
Barang-barang yang akan diperdagangkan adalah barang-barang yang dimana terdapat permintaan tumpang tindih (overlapping demand), yang berarti para konsumen di kedua negara meminta barang yang sama.
Linder menjelaskan bahwa sebuah barang dapat pergi ke arah mana saja, perdagangan intra-industri ini timbul karena diferensiasi produk (product differentiations).
4. Keunggulan Kompetitif Bangsa-bangsa dari Porter.
• Kondisi – kondisi permintaan – sifat dasar dari permintaan domestik
• Kondidi-kondisi faktor –level dan komposisi faktor produksi
• Industri-industri terkait dan pendukung – para pemasok dan jasa dukungan industri.
• Strategi, struktur, dan persaingan perusahaan – perluasan persaingan domestik, adanya hambatan-hambatan untuk masuk serta organisasi dan gaya manajemen perusahaan.
3.7. Restriksi Perdagangan
 Argumen-argumen bagi restriksi perdagangan dan tangkisannya:
1. Pertahanan Nasional
Industry-industri tertentu memerlukan proteksi dan impor karena vital bagi pertahanan nasional, dan harus tetap diberlakukan meskipun terdapat kerugian secara komparatif berkenaan dengan para pesaing luar negeri.
2. Melindungi Industri yang baru tumbuh (infant industry)
Para pendukung proteksi atas industry yang baru tumbuh bisa menyatkan bahwa dalam jangka panjang industry itu akan memiliki keunggulan komparatif, tetapi perusahaan-perusahaan itu memerlukan proteksi terhadap impor sampai angkatan kerja telatih, teknik-teknik produk dikuasai dan mereka mencapai skala ekonomi.
3. Melindungi tenaga kerja domestic dari tenaga asing yang murah
Para proteksionis yang menggunakan alasan ini akan membandingkan tingkat upah per jam tenaga asing yang lebih murah dengan yang mereka bayar di AS.
4. Tarif ilmiah atau persaingan yang adil
Bea masuk yang akan meningkatkan biaya barang-barang impor sama dengan biaya barang-barang yang di produksi di dalam negeri dilakukan dengan persaingan yang adil.

 

5. Tindakan balasan
Perwakilan-perwakilan industry yang ekspornya telah mendapat hambatan-hambatan impor yang dikenakan atas mereka oleh sebuah Negara lain, meminta pemerintah mereka untuk membalas degan hambatan-hambatan yang sama.
1) Dumping : menjual suatu produk di luar negeri dengan harga kurang dari biaya produksi, harga di pasar dalam negeri, atau harga untuk Negara-negara ketiga. Penggolongan Dumping:
a) Dumping social: persaingan yng tidak adil oleh berbagai perusahaan di Negara-negara berkembang telah menurunkan biaya tenaga kerja dan memperburuk kondisi kerja;
b) Dumping lingkungan: persaingan tidak adil disebabkan oleh belum adanya standar-standar lingkungan suatu Negara;
c) Dumping jasa keuangan: Persaingan tidak adil yang disebabkan oleh rendahnya rasio modal bank/asset yang dipersyaratkan sebuah Negara;
d) Dumping budaya: Persaingan tidak adil yang disebabkan oleh hambatan-hambatan budaya yang membantu perusahaan-perusahaan local.
2) Subsidi: sumbangan keuangan, diberikan secara langsung atau tidak langsung oleh pemerintah tanpa imbalan keuntungan, termasuk hibah, perlakuan pajak istimewa dan asumsi pemerintah mengenai pengeluaran bisnis yang normal.
3) Sountervailing duties: pajak-pajak impor tambahan yang dikenakan atas impor yang telah diperoleh keuntungan dari subsidi ekspor.
 Argumen-argumen lain:
Jenis-jenis restriksi:
1. Hambatan tariff : tariff adalah pajak atas barang impor dengan tujuan menaikkan harganya untuk mengurangi persaingan bagi produsen local atau merangsang produksi local.

1) Bea Ad Valorem, spesifik dan kombinasi:
Bea ad valorem (ad valorem duties) ; Pajak impor yang dikenakan sebagai suatu persentase dari nilai faktur barang-barang yang impor. Bea spesifik (specific duties): jumlah tetap yang dikenakan atas unit fisik barang yang diimpor. Bea kombinasi ( comfound duties): kombinasi pajak-pajak spesifik dan ad valorem. Pajak variable: pajak impor yang ditetapkan dengan perbedaan antara harga pasar dunia dan harga-harga yang didukung pemerintah local.
2) Harga resmi
Harga-harga ini termasuk dalam tariff bea cukai dari beberapa Negara dan merupakan dasar untuk perhitungan pajak ad valorem bilamana harga faktur yang sebenarnya lebih rendah.
3) Bea yang lebih rendah untuk masukan local yang lebih banyak
Bea-bea impor/ bea pabean ditetapkan oleh banyak Negara sedemikian rupa untuk mendorong masukan local.
2. Hambatan-hambatan non tariff:
a) Kuantitatif.
o Kuota : jumlah yang dikenakan atas jenis impor tertentu.
o Hambatan ekspor sukarela (VER=Voluntary Export Restraints) yaitu kuota ekspor ang dikenakan Negara pengekspor.
o Persetujuan Tertib Pemasaran: persetujuan resmi antar negara pengekspor dan pengimpor yang mencantumkan kuota impor atau atau ekspor yang akan diperoleh tiap negara untuk suatu barang.
b) Nonkuantitatif
o Hambatan nontarif yang paling pentinga adalah hambatan jenis nonkuantitatif. Banyak pemerintah cenderung menetapkan hambatan nontarif untuk memperoleh perlindungan yang di upayakan melalui pajak impor.
o Hambatan-hambatan nonkuantitatif digolongkan menjadi:
1. Partisipasi pemerintah langsung dalam perdagangan.
2. Prosedur kepabeanan dan administrasi.
3. Standar
3. Menciptakan Pasar Baru
Perusahaan- perusahaan ekspor perlu memperoleh info tentang status hambatan – hambatan tarif dan nontarif yang sedang berubah di negara-negara di mana mereka melakukan bisnis atau akan melakukan bisnis. Perusahaan yang telah meninggalkan pasar dengan meninggalkan pajak impor yang sangat tinggi atau hambatan – hambtan non tarif ,seperti standar produk atau prosedur kapabean yang dirancang untuk menyingkirkan produk-produk asing ,mungkiin menemukan hambatan-hambatan ini tidak lagi ada.
4. Dari Sistem Multinasional ke Sistem Parbrikasi Terpadu secara Global
Kemungkinan perusahaan multidomestik dengan banyak pabrik manufaktur dengan masing-masing memiliki sistem pemanufakturan lengkap untuk memasok negara yang ditempati , dapat menemukan bahwa dengan hambatan impor yang lebih rendah , perusahaan itu memiliki 2 kemungkinan untuk meningkatkan efisiensi :
 Menutup pabrik yang tidak paling efisien dan memasok pasar-pasar mereka dengan impor dari cabang – cabang yang lain.
 Mengubah sistem pemanufakturan multidomestik menjadi sistem terpadu secara global dimana masing – masing pabrik melaksanakan kegiatan – kegiatan yang dapat dilakukan dengan paling efisien
3.8. Pembangunan Ekonomi
 Kategori Berdasarkan Tingkat Pembangunan Ekonomi
1. Maju (developed)
2. Berkembang ( developing )
3. Negara – Negara Industri Baru ( Newly Industrializing Countries / NIC )
4. Perekonomian Industri baru ( newly industrialized econimies / NIE )
 PNB /Kapita sebagai indicator
1. Perekonomian Bawah Tanah (Underground Economy)
2. Konversi mata uang
3. Faktor Konversi Atlas
3.9. Karateristik Negara Berkembang
Karakteristik umum :
1. PNB/kapita kurang dari $9.265 (kriteria bank dunia)
2. Distribusi pendapatan tidak merata, dengan kelas menengah yang sangat kecil
3. Dualisme teknologi
4. Dualisme regional
5. Sebagian besar (80-85%) penduduk memperoleh penghasilan dalam sektor pertanian yang relatif tidak produktif
6. Pengganguran tidak ketara/setengah pengangguran
7. Pertumbuhan penduduk tinggi
8. Tingkat buta huruf dan sarana pendidikan yang tidak mencukupi
9. Kekurangan gizi yang meluas dan banyak permasalahan di bidang kesehatan
10. Instabilitas politik
11. Sangat bergantung pada produk ekspor
12. Topografi yang tidak ramah
13. Tingkat tabungan yang rendah dan fasilitas perbankan yang tidak memadai
3.10. Pendekatan Kebutuhan Manusia pada Pembangunan Ekonomi
 Pendekatan kebutuhan manusia
Mendefinisikan pembangunan ekonomi sebagai pengurangan kemiskinan dan pengangguran serta peningkatan pendapatan.
 Program pembangunan PBB telah merencanakan indeks pembangunan manusia berdasarkan 3 elemen esensial :
o Panjang umur dan hidup sehat
o Kemampuan memperoleh pengetahuan
o Akses kepada sumber-sumber yang diperlukan untuk standar hidup yang layak

 Tidak ada teori umum yang diterima
Masuknya variabel nonekonomi telah membuah mustahil untuk merumuskan teori pembangunan umum yang diterima secara luas.
 Investasi dalam modal manusia
Teori pembangunan ini mengenal bahwa lebih dari sekedar akumulasi modal yang diperlukan untuk pertumbuhan, juga harus ada investasi daam pendidikan rakyat
 Substitusi impor versus promosi ekspor
Subtitusi impor merupakan produksi barang-barang lokal untuk menggantikan impor.
 Pentingnya tetapi mengikuti perkembangan
3.11. Teori Investasi Internasional
Teori-teori investasi langsung luar negeri kontemporer
 Teori keunggulan Monopolistik
Yaitu investasi langsung luar negeri dilakukan oleh perusahaan dalam industri oligopolistik memiliki keunggulan teknis dan keunggulan lain atas perusahaan pribumi
 Ketidaksempurnaan pasar produk dan faktor produksi
Cavas, seorang ahli ekonomi Harvad memperluas karya Hymer untuk menunjukkan bahwa pengetahuan unggul memungkinkan perusahaan yang melakukan investasi untuk memperoleh berbagai produk yang lebih disukai kosumen daripada barang-barang local, dan dengan demikian akan memberikan kepada perusahaan itu beberapa kendali untuk harga jual dan keunggulan atas perusahaan-perusahaan pribumi.
 Daur hidup produk internasional (international productlife cycle-IPLC)
Terdapat hubungan yang erat antara perdagangan internasional dan investasi internasional, konsep IPLC juga menjelaskan investasi langsung luar negeri sebagai tahap alamiah dalam kehidupan suatu produk.
Teori-teori lain
Sebuah teori lain dikembangkan oleh knickerbocker yang mengemukakan bahwa apabila sebuah perusahaan khususnya yang memimpin dalam industri oligopolistik memasuki sebuah pasar, maka perusahaan-perusahaan lain dalam industri itu mengikutinya
 Investasi asing
Investasi langsung luar negeri oleh perusahaan oligopoli di negara-negara asal masing-masing sebagai tindakan pertahanan.
 Teori Internalisasi
Merupakan perluasan teori pasar tidak sempurna, untuk memperoleh laba yang lebih tinggi atas investasinya, sebuah perusahaan akan mentransfer pengetahuan unggulnya ke cabang di luar negeri daripada menjualnya di pasar terbuka.
 Teori Eklektik Produksi Internasional dari Dunning
Bagi perusahaan yang akan melakukan investasi di luar negeri ia harus mempunyai tiga jenis keunggulan :
o Kepemilikan yang khas (ouwnership specific) yaitu sejauh mana sebuah perushaan memiliki atau dapat memperoleh asset-aset yang kelihatan (tangible) dan tidak kelihatan (intangible) yang tidak dapat diperoleh perusahaan –perusahaan lain.
o Internalisasi (internalization) adalah dalam kepentingan perusahaan untuk menggunakan keunggulan kepemilikan khas (meginternalisasi) ketimbang melisensikannya kepada pemilik asing (mengeksternalisasi).
o Kekhasan lokasi (location specific)- perusahaan akan memperoleh keuntungan dengan menempatkan sebagian fasilitas produksinya di luar negeri.